Tak Punya Guru Matematika, SMPN 6 Tenggarong Malah Raih Peringkat 3 TKA se-Kukar
TENGGARONG – Prestasi membanggakan berhasil ditorehkan SMPN 6 Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Di tengah keterbatasan tenaga pendidik, sekolah yang berlokasi di Desa Rapak Lampur tersebut sukses meraih peringkat ketiga Tes Kemampuan Akademik (TKA) mata pelajaran Matematika tingkat SMP negeri se-Kukar.
Capaian tersebut terbilang istimewa. Pasalnya, SMPN 6 Tenggarong hingga kini tidak memiliki guru khusus yang mengajar mata pelajaran Matematika.
Kepala SMPN 6 Tenggarong, James Marpaung, mengaku bangga sekaligus terkejut atas hasil yang diraih para siswanya. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan sumber daya bukan alasan untuk berhenti berprestasi.
“Kalau untuk Matematika, kami memang tidak memiliki guru bidang studi khusus. Namun, berkat kerja sama seluruh guru dan program yang kami jalankan, hasilnya sangat membanggakan. Kami bisa masuk tiga besar TKA Matematika tingkat SMP negeri se-Kukar,” ujarnya, Rabu (17/6/2026).
James menjelaskan, selama ini proses pembelajaran Matematika dilakukan secara kolaboratif oleh sejumlah guru dari mata pelajaran lain, seperti IPA, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), hingga Informatika.
Meski demikian, pihak sekolah tidak hanya berfokus pada pembelajaran di dalam kelas. SMPN 6 Tenggarong menerapkan program penguatan numerasi yang diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran sehingga kemampuan berhitung siswa terus terasah dalam berbagai aktivitas belajar.
Dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam misalnya, siswa diajarkan menghitung zakat, infak, dan berbagai bentuk perhitungan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
“Di pelajaran agama, anak-anak tidak hanya belajar nilai-nilai keagamaan, tetapi juga diajarkan menghitung zakat dan infak. Jadi kemampuan numerasinya tetap terlatih,” jelasnya.
Pendekatan serupa juga diterapkan pada mata pelajaran lain. Dalam pelajaran olahraga, siswa diperkenalkan pada konsep pengukuran dan perhitungan luas lapangan. Sementara pada pembelajaran lainnya, siswa dibiasakan memahami konsep transaksi jual beli hingga perhitungan bunga bank.
Budaya numerasi tersebut tidak hanya diterapkan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas sekolah. Saat peringatan Hari Kemerdekaan, misalnya, sekolah lebih memilih menggelar perlombaan yang mengandung unsur numerasi dibanding lomba-lomba tradisional yang tidak memiliki nilai pembelajaran.
“Kalau lomba makan kerupuk atau pecah balon, unsur pembelajaran numerasinya tidak ada. Karena itu kami lebih banyak membuat kegiatan yang bisa melatih kemampuan berpikir dan berhitung siswa,” katanya.
Tak hanya unggul dalam bidang numerasi, SMPN 6 Tenggarong juga berhasil menembus lima besar nilai TKA mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMP negeri se-Kutai Kartanegara.
Menurut James, capaian tersebut tidak terlepas dari program literasi yang rutin dilaksanakan setiap pekan. Dalam kegiatan itu, siswa diminta membaca buku sesuai tema yang ditentukan, kemudian menjelaskan kembali isi bacaan dengan bahasa mereka sendiri.
“Setiap pekan ada kegiatan Literasi Bersama. Anak-anak membaca buku sesuai tema tertentu, lalu diminta memaparkan kembali apa yang mereka pahami dari bacaan tersebut,” ujarnya.
James mengungkapkan, saat pertama kali memimpin sekolah itu tiga tahun lalu, capaian literasi masih berada pada kategori kuning, sedangkan numerasi berada pada kategori merah dalam rapor pendidikan sekolah.
Melalui berbagai program penguatan yang dilakukan secara bertahap dan konsisten, kondisi tersebut kini berubah signifikan. Baik indikator literasi maupun numerasi telah meningkat hingga mencapai kategori hijau.
Ia menegaskan, sekolah tidak pernah membedakan siswa berdasarkan kemampuan akademik maupun nonakademik. Semua peserta didik diberikan kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki.
“Kami tidak memetakan mana siswa unggul akademik dan mana yang nonakademik. Yang terpenting, semua anak memiliki kesempatan untuk berkembang dan berprestasi demi kemajuan sumber daya manusia,” pungkasnya.